Sosok Guru Ideal Generasi Milenial
Spread the love

By: Aminah Khairun Nisa, S.TP., S.Hum Al Hafidzah

Beberapa tahun terakhir teknologi dan informasi semakin cepat berkembang dan memiliki dampak dan manfaat yang langsung bisa dirasakan oleh manusia. Perkembangan teknologi dan informasi dianggap menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan generasi milenial. Milenial, demikian istilah yang lekat dengan generasi anak yang lahir dalam rentan tahun 1980-an hingga 2000-an, merekalah generasi muda masa kini yang berada pada usia 15-34 tahun.

Tumbuh dan berkembang di era perkembangan teknologi dan informasi tentu saja menjadikan anak-anak muda mengalami transformasi karakter, gaya hidup, dan identitas.  Dimana kehidupan mereka yang tidak dapat dilepaskan dari penggunaan teknologi dan tren dunia. Kebanyakan generasi milenial juga menggandalkan kecepatan yang serba instan, bahkan banyak anak muda yang cuek terhadap kehidupan sosial, bersikap individualis dan egois, serta tidak mampu menghargai proses. Dengan demikian, hal ini akan sangat berpengaruh pada pembentukan karakter anak yang identik dengan karakteristik sifat negatif, terutama jika tidak dibentengi dengan moral dan bimbingan orang tua dan guru sebagai pendidik.

Sejatinya, generasi milenial merupakan generasi yang lahir dan hidup di era digital yang memanfaatkan media teknologi dan informasi dalam kehidupannya. Selanjutnya, menjadi suatu keharusan bagi guru untuk memahami karakter generasi digital. Hal ini sangat penting agar guru mampu memposisikan diri sebagi pendidik yang akan menjadi teladan bagi peserta didik. Yaitu guru yang dapat memberikan pengaruh dalam membentuk pribadi siswa yang cerdas dan bijak untuk bersaing menghadapi masa depan dalam pesatnya perkembangan teknologi dan informasi dengan taktik yang kreatif dan strategi pembelajaran yang aplikatif dan inspiratif. William Arthur Ward, seorang penulis Amerika pernah berkata, “Guru biasa, memberitahu; guru yang baik menjelaskan; guru yang superior menunjukkan; dan guru yang hebat menginspirasi.”

Untuk menjadi seorang panutan, tentu guru harus selalu memberikan sikap dan contoh yang tepat dan penuh cinta agar mudah menyerap dalam kepribadian siswa. Dalam hal ini Uqbah bin Abi Sufyan pernah menasehati seorang guru seraya berujar; “Sebelum engkau memperbaiki anakku, maka pertama kali kamu harus memperbaiki dirimu sendiri. Sebab, matanya masih sangat terikat dengan matamu. Jadi, ukuran baik menurutmu adalah apa yang baik dalam pandangannya. Demikian sebaliknya, yang jelek dalam pandangan dia adalah yang menurutmu jelek”. Begitulah pesan Uqbah bin Abi Sufyan kepada seorang guru akan pentingnnya keteladanan dari seorang guru.

Sosok Nabi Muhammad SAW kiranya sosok guru ideal sebagai contoh agar kita menjadi guru teladan penuh cinta. Nabi Muhammad SAW merupakan sosok yang digugu dan ditiru. Nabi Muhammad SAW menjadi sumber inspirasi bagi para sahabat-sahabatnya. Bahkan sampai kini Nabi Muhammad SAW merupakan panutan yang belum ada tandingannya. Maka kepada beliaulah kita harus meneladani. Adapun sosok guru yang perlu kita contoh dari beliau diantaranya;

Pertama, Nabi adalah teladan. Saat mengajarkan suatu hal maka Nabi yang pertama kali melakukannya. Saat umat Islam sibuk membuat parit untuk menghadang serbuan kaum kafir dalam Perang Khandaq misalnya, Nabi tak hanya memberikan instruksi. Tetapi, sang Nabi turun langsung menggali parit bahkan memecahkan batu besar.

Guru yang baik adalah guru yang mengajak bukan menyuruh. Generasi milenial identik dengan pandangan rasional, apa yang dilihat, didengar, dirasa akan melahirkan persepsi. Membentuk persepsi yang baik sangat penting ditunjukkan melalui keteladanan.

Kedua, Nabi adalah pribadi pembelajar. Selain dari wahyu, Nabi juga mempelajari ilmu-ilmu yang akan mendukung tugas kenabian dan kerasulannya. Guru yang baik adalah guru pembelajar, yaitu guru yang tak henti untuk belajar.

Guru harus terus-menerus meningkatkan pengetahuan dan teknik mengajarnya. Memaksimalkan teknologi untuk mengakses informasi sebanyak-banyaknya agar tidak kalah cerdas dibandingkan anak didiknya.

Ketiga, Nabi mengajar dengan cerita. Nabi banyak menceritakan kisah-kisah umat terdahulu untuk menjadi contoh bagi umatnya. Guru yang hebat adalah guru yang mampu menginspirasi murid-muridnya, salah satu caranya melalui cerita dan kisah.

Guru tidak lagi menjelaskan dengan membacakan materi yang hanya akan membuat siswa bosan dan tidak kondusif. Guru hendaknya merangkum materi menjadi bagan atau cerita, agar siswa mudah faham dengan memanfaatkan seluruh panca inderanya.

Keempat, Nabi mengajar dengan diskusi. Ada suatu kisah dimana seorang sahabat mengajukan pertanyaan kepada Nabi dan dijawab dengan pertanyaan pula. Artinya, sahabat yang bertanya diminta untuk berfikir dan tak langsung diberikan jawaban atas pertanyaannya.

Guru juga harus melatih murid untuk berfikir dan menganalisa. Lakukan proses diskusi yang fleksibel dan lebih efektif dengan pikiran terbuka. Ketersediaan buku-buku dan internet memberikan kekayaan sumber ilmu, ide-ide dan perspektif budaya yang beragam. Dari situ siswa dapat mempertimbangkan segala macam informasi dan opini untuk menciptakan gaya analisa masing-masing.

Kelima, Nabi mengajar dengan penggambaran. Seringkali Nabi menjelaskan dalil dengan pengibaratan, hal ini dilakukan agar ilmu dan pesan dari dalil itu mudah difahami. Begitu juga dengan guru, hadirnya guru bersama laptop memberi semangat siswa, karena adanya pembelajaran menarik yang akan disajikan oleh guru, seperti melalui power point atau video. Urgensinya adalah guru harus memiliki kemampuan menggunakan alat-alat digital, dan kecakapan prilaku dalam memanfaatkan kecanggihan teknologi.

Begitu banyak hikmah dan pelajaran dari seorang Nabi Muhammad SAW sumber teladan yang penuh cinta. Guru adalah pelanjut tugas Nabi sebagai pendidik umat maka sudah semestinya guru banyak belajar dari cara mendidik dan mengajar Nabi.