SELF SERVICE CULTURE, CERMINAN JIWA NEGARAWAN MUDA
Spread the love

SELF SERVICE CULTURE, CERMINAN JIWA NEGARAWAN MUDA

Oleh: Wan Dian Armando

Setelah sekian lama tidak bertemu dengan teman-teman sekelompok saat KKN, akhirnya sore itu kami berkesempatan untuk bertemu kembali dalam suasana yang sangat hangat. Setelah selesai melepas rindu dengan saling bertanya kabar, kamipun memutuskan untuk duduk di salah satu warung kopi terdekat. Kami memilih warung kopi yang dulu biasa kami jadikan tempat nongkrong sebelum berangkat ke lokasi KKN. Seperti biasa, kami pun memesan minuman dan beberapa makanan ringan.

Tak berapa lama setelah kami memesan makanan, masuk beberapa pelajar SMA. Saya tau karena mereka masih mengenakan seragam sekolah. Mereka memilih meja tepat di samping meja kami searah jam sembilan. Semakin sore, suasana warung kopi ini memang semakin rame. Karena terlalu rame, seakan-akan jumlah server yang ada tidak sanggup mengimbangi pengunjung yang berdatangan. Minuman dan makanan yang kami pesan sudah tersedia sejak tadi, bahkan sebagian teman-teman sudah hampir menghabiskannya. Awalnya saya sudah tidak menghiraukan kehadiran pelajar-pelajar SMA itu karena asyiknya topik perbincangan yang kami bahas sesama teman KKN. Namun, tanpa sengaja perhatian saya kembali tertarik kepada salah satu pelajar SMA tadi.

Sebut saja A. A adalah sosok yang biasa, sekilas sama dengan teman-temannya yang lain. Namun sikapnya memberikan nilai lebih dirinya di mata orang-orang yang peduli dengan nilai budaya seperti saya. A terlihat meninggalkan teman-temannya dan menuju ke arah bartender. Tampak dia memesan beberapa minuman untuknya dan teman-temannya. Lalu dia kembali melanjutkan obrolan dengan teman-temannya. Selang beberapa menit, minuman telah tersedia di meja bartender, namun tidak ada server yang sempat untuk mengantarkan ke meja A dan teman-temannya. A kembali beraksi. A meninggalkan teman-temannya menuju meja bartender dan membawa minuman pesanannya sendiri ke mejanya. Saya mulai terkesan dengan sikap anak SMA yang satu ini.

Setelah itu, saya kembali mengalihkan fokus kepada perbincangan teman-teman sekelompok KKN. Semakin lama perbincangan kami semakin seru, karena masing-masing menceritakan target-target masa depan pasca kuliahnya. Namun konsentrasi saya kembali terpecah kepada gerak-gerik A. Sepertinya salah satu temannya butuh tisu untuk membersihkan tangannya dari minuman yang tertumpah. Tanpa berpikir panjang, A kembali bangkit dan bergerak menuju meja yang berada persis di samping meja kasir untuk mengambil tisu. Saya kembali terkesan dibuatnya.

Hari semakin beranjak sore, A dan teman-temannya terlihat mulai bersiap meninggalkan warung kopi ini. Kembali anak ini membuat kejutan, hanya dengan beberapa  isyarat, A dan teman-temannya serentak membawa gelas bekas yang mereka gunakan untuk minum tadi ke meja bartender. Dari kejauhan saya melihat senyum sumringah dari bibir sang bartender. Setelah itu mereka berjalan beriringan menuju meja kasir dan meyelesaikan pembayaran. Masih dari posisi yang sama, saya melihat mereka mengeluarkan sepeda motornya masing-masing dari kerumunan parkiran yang terkesan semrawut itu tanpa menunggu sang tukang parkir yang sedang sibuk memberikan isyarat kepada mobil yang baru akan masuk ke lokasi parkiran. Namun mereka tetap membayar retribusi parkir sebagaimana mestinya. Sungguh saya salut dan terkagum-kagum dibuatnya.

Azan maghrib mulai terdengar sayup-sayup di kejauhan. Kamipun memutuskan untuk menyudahi reunian hari itu. Kami sama-sama bergerak menuju ke masjid terdekat dari warung kopi itu. Kami kembali bertemu dengan A dan teman-temannya. Saya melihat mereka membantu nazir masjid membentangkan sajadah. Lagi-lagi saya terkesan. Setelah selesai shalat maghrib berjama’ah, kamipun kembali ke rumah masing-masing. Dalam perjalanan pulang, saya terus memikirkan istilah apa yang tepat untuk menyebut tindakan yang dipertontonkan A tadi. Akhirnya saya menyimpulkan satu istilah “SELF SERVICE CULTURE”.

Saya membayangkan, andai semua generasi muda Indonesia meniru apa yang telah dipraktekkan A dan kawan-kawannya, maka saya berani menjamin, Indonesia Unggul dan Berdaya itu akan segera menjadi kenyataan. Jika semua kita berhasil memastikan dapat melayani diri sendiri dengan baik tanpa memberatkan orang lain, kita pasti akan menjadi bangsa yang mandiri. Sekarang bukanlah zaman kolonial, dimana harus ada kelompok penguasa yang dapat memerintah sekelompok babu sesuka hatinya. Kita semua Rakyat Indonesia yang merdeka. Kita semua memiliki hak dan kewajiban yang sama di negeri ini. Seorang negarawan harus mampu memastikan dirinya tidak menjadi beban bagi negara ini.

Saya teringat kata-kata dari seorang bijak, bahwa “Satu-satunya cara melepaskan Indonesia dari jerat kemiskinan adalah memastikan masing-masing kita tidak miskin”. Dan dalam pikiran saya, seorang negarawan muda harus kaya dalam segala hal. Dan yang paling utama adalah kaya akhlak dan kreativitas. Karena hari ini, kita tidak lagi kekurangan orang pintar. Justru kita sangat miskin orang-orang yang berakhlak, yang jauh lebih mengutamakan kepentingan umum diatas kepentingan pribadi dan kelompoknya.

Hmmm………..